SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA jun-mencariridhoallah.blogspot.com
SEMOGA ALLAH MERIDHOI KITA SEMUA

Kamis, 22 November 2012

DIANTARA CARA MENDIDIK ANAK

DIANTARA CARA MENDIDIK ANAK

Oleh: Si Pincang
Category JATI DIRI
06 Muharram 1434H
22 November 2012
06:40
Ditulisan sebelumnya dikisahkan tentang  sahabat Al Qomah. Dari tulisan tersebut dapatlah kita ambil pelajaran untuk diri kita dan keluarga kita.
Oleh sebab itu didiklah anak-anak jangan sampai kasar terhadap orang tuanya. Sekarang banyak pendidikan dan hanya kecerdasan yang di kejar tetapi budi pekerti terhadap orang tua tidak ada. Padahal dalam Al Qur-an telah di sebutkan;
ZUIYINA LINNAASI HUBBUSY SYAHWATI MINAN NISAA-I WAL BANIINI
Hatinya manusia itu di hiasi keinginan pertama mempunyai anak laki-laki. Tidak ada yang ingin mempunyai anak pertama itu perempuan pasti anak laki-laki. Kalau ada yang mempunyai keinginan mempunyai anak pertama perempuan itu bohong. Sebab yang menerangkan ini yang menciptakan manusia itu sendiri.

Dan anak jangan sampai sering-sering di takut-takuti, seperti di takuti ada genderuwo atau kuntilanak. Sebab kata-kata itu nanti akan menancap dalam pikirannya akhirnya menjadi anak penakut
Kalau bercerita, ceritakanlah kisah-kisah pahlawan, para nabi-nabi.
Sebab kata-kata itu tajam, kata-kata itu bisa lebih luas daripada alam. Bisa lebih panas daripada api. Bisa lebih kasar daripada brongkalan (tanah yang keras). Bisa lebih tajam daripada silet. Bisa lebih berat daripada bumi. Bisa lebih manis daripada madu. Bisa lebih pahit daripada butrowali, orang terkena pahitnya kata-kata kadang-kadang seumur hidup masih ingat , tetapi kalau kena pahitnya butrowali lalu makan yang manis pahitnya langsung hilang. Begitu pula sebaliknya apabila mendengar kata-kata yang manis larut semuanya. Uang yang ada di dalam dompet mendengar kata-kata yang manis tari-tarian.
Setelah Al Qomah bisa mengucapkan Laa Ilaaha illalloh kemudian wafat. Jenazahnya di antar oleh para shohabat dan juga Kanjeng nabi ikut mengantarkan. Kemudian nabi bersabda:
Barang siapa yang menyakiti hati orang tua dosa besar karena itu jalan jati dirimu.
Para shohabat banyak yang menangis mengetahui peristiwanya Al Qomah itu.
Di sebutkan dalam Al Qur-an:
WA IN JAHADAKA ALA AN TUSYRIKA BIHI MAA LAISA LAKA BI ‘ILMUL FALAA TUTI’ HUMA WASHOHIBUHUMA FID DUNYA MA’RUFAN
Jika orang tuamu memaksa kamu supaya kamu musyrik kepadaku jangan di turuti tetapi kamu harus tetap bergaul dengan baik.
Musyrik itu dosa besar, walaupun lain agama harus bergaul yang baik.
Ada aliran aneh bin ajaib sama-sama mengaku Islam beda aliran tidak mau salaman dengan ibu bapaknya, karena najis.
Itu bukan ajaran Al Qur-an, agama hanya di jadikan kedok dan akhir-akhir ini banyak.
Bacalah setiap selesai sholat doa;
ROBBIGHFIRLII WALIWALIDAYYA WARHAMHUMA KAMAA ROBBAYAANI SHOGHIIRO.
Kalau orang tuanya sudah meninggal dunia setiap hari kamis atau satu bulan sekali sholat Birrul Walidain. Yang belum pernah sholat Birrul Walaidain hukumnya wajib. Tetapi kalau sudah pernah sholat hukumnya sunnah. Kalau tidak bisa sebulan sekali karena banyak kesibukan sebab mengikuti jalan kehidupan ya setahun sekali.
Terhadap jalan jatidiri tidak tahu tetapi kalau untuk jalan kehidupan yang jauh di jelang yang dekat di hampiri, yang tinggi di daki yang rendah di turuni. Berat di pikul ringan di jinjing, pandangan jauh di layangkan pandangan dekat di tundukan. Emas bungkal di asah, kayu jenjang di keping. Kadang-kadang karena jalan kehidupan ini antara sie anak dengan bapak karena uang sedikit sudah berbelah rotan bertolak punggung. Itulah sebabnya supaya di ingat-ingat ayat Al Qur-an ini: USYKURLII WALIWALIDAIKA ILAIYYAL MASHIIR (Al Isro’)
Jalannya jatidiri itu syukur kepada Alloh dan syukur kepada manusia.
Boleh mencintai istri tapi jangan sampai mengalahkan jalan jatidirinya.
WA MAN KAANA HAADZIHI A’MA FAHUWA FIL AKHIROTI A’MA WA ADHOLLU SABIILA
Jadi taubat itu hakikatnya kembali kepada jalan jatidiri. Jatidiri hanya Alloh dan orang tua. Dalam Al Qur-an banyak di terangkan. Di antaranya;
USYKURLII WALIWALIDAYYA ILAYYAL MASHIIR
Bersyukurlah kepadaku dan kepada orang tuamu hanya kepadakulah kamu kembali.
Oleh sebab itu bagaimanapun pandainya kita dan modern jangan sampai lupa dengan jalan jatidiri.
Kisah..
Ada orang desa berkeinginan anaknya maju kemudian di sekolahkan di kota dan lulus dari perguruan tinggi. Oleh karena orang tuanya sangat senang kemudian anaknya di ajak jalan-jalan ke kota. Di kota bertemu dengan teman seperguruan tinggi. Kemudian ibunya di suruh menunggu di bawah pohon asam sedangkan anaknya menemui temannya. Oleh temannya di tanya, siapa yang menunggu di bawah pohon asam? Tidak di jawab ibuku tetapi di jawab pembantuku. Merasa malu mempunyai ibu dari desa yang mobrot-mobrot. Jadi tidak meletakan malu pada tempatnya.
Lain hari sie anaknya di lamar setelah di lamar kemudian di ajak ke kota dan bertempat tinggal di rumah yang baik. Pengantin baru, mobilnya baru, rumahnya baru (KULLU JADDIDIN SURUURUN = segala yang baru menyenangkan).
Kemudian orang tua yang di desa menjenguk anaknya yang sudah menetap di kota dengan membawa hasil tanaman yang menjadi kesukaan anaknya. Setelah sampai di rumah anaknya ternyata pintu pagarnya tidak di bukakan justru menyuruh kepada pembantunya supaya orang yang ada di depan pintu pagar itu di beri uang. Jadi oleh anaknya orang tuanya itu di anggap pengemis. Malu mengakui bahwa yang datang itu adalah orang tuanya.
Orang tuanya menangis karena anaknya tidak mau mengakui sebagai ibunya. Kemudian berdoa kepada Alloh, Yaa Alloh saya tidak mempunyai anak seperti itu tidak apa-apa. Tidak lama kemudian langit berubah menjadi mendung lalu hujan angin, pohon besar yang ada di dekat rumahnya tumbang dan menimpa anaknya sampai mati.
Begitulah doanya orang tua. Sudah lupa dengan jalan jatidirinya. Na’udzubillahi min dzaalik. Ini supaya menjadi peringatan bagi kita semua.

Rabu, 21 November 2012

KISAH SHOHABAT AL QOMAH

KISAH SHOHABAT AL QOMAH

Oleh: Si Pincang
Category JATI DIRI, KISAH
05 Muharram 1434H
20 November 2012
19:52
Ada shohabat yang bernama Al Qomah. Al Qomah itu di terangkan seorang shohabat kalau malam selalu mengerjakan Tahajjud kalau siang puasa dan ahli shodaqoh. Setelah akan meninggal dunia di tuntun dengan Laailaaha illalloh. Tetapi tidak bisa mengucapkan Laailaaha illalloh. Mengetahui seperti itu istrinya menangis kemudian lapor kepada Nabi Muhammad. Kemudian nabi perintah kepada shohabat Bilal. Kemudian Al Qomah di tuntun oleh shohabat Bilal untuk mengucapkan Laailaaha illalloh. Tetap saja Al Qomah tidak bisa.
Kemudian Nabi bertanya: Apakah Al Qomah itu mempunyai bapak? Bapaknya sudah meninggal.
Apakah Al Qomah itu mempunyai ibu? Masih ada tetapi sudah tua.

Kemudian sampaikan kepada ibunya Al Qomah kalau Aku (Kanjeng Nabi) ingin bertemu dengan ibunya Al Qomah. Apakah saya yang berkunjung kesana atau ibunya Al Qomah yan kesini. Kemudian shohabat mendatangi ibunya Al Qomah dan menyampaikan pesan, Bu Al Qomah Rosul ingin bertemu karena ada kepentingan. Apakah Rosul datang ke sini atau Bu Al Qomah datang ke tempatnya Rosul? Biar saya saja yang kesana jangan sampai Rosul datang kesini, kata sang ibu.
Rosul: Apa betul anda ibunya Al Qomah?
Ibu Al Qomah : Iya Rosul..! Al Qomah itu anak saya.
Rosul: Bagaimana kesehariannya Al Qomah?
Ibu Al Qomah: Al Qomah itu ahli mujahadah, ahli shodaqoh, ahli puasa. Hatinya baik kepada masyarakat.
Rosul: Betul?
Ibu Al Qomah : Betul Rosul. Hanya saja Al Qomah itu terlalu terhadap istrinya sampai saya yang setua ini tidak di perhatikan. Pada suatu saat saya makan kemudian Al Qomah mengeluarkan kata-kata keras terhadap saya. Itu yang menyebabkan hati saya sakit sampai sekarang.
Ini yang menyebabkan sehingga mulutnya terkunci tidak bisa membaca Laailaaha illalloh. Jalan jatidirinya terkunci.
Di hadapan shohabat Rosululloh bersabda:
Saya memerlukan kayu kering sebanyak-banyaknya supaya di kumpulkan kesini.
Kemudian Ibunya Al Qomah bertanya: Untuk apa Rosul mencari kayu kering yang banyak?
Rosul: Ini untuk membakar anakmu, daripada anakmu nanti di bakar di neraka maka aku bakar disini terlebih dahulu kalau kamu tidak memberi maaf.
Sebelumnya Rosul sudah bersabda kepada ibunya Al Qomah supaya Al Qomah di maafkan. Ibunya Al Qomah jawab sudah di maafkan. Kemudian shohabat di perintah untuk melihat Al Qomah apakah sudah bisa mengucapkan atau belum.
Rosul: Bagaimana?
Shohabat: Belum bisa mengucapkan Laa ilaaha illalloh.
Rosululloh mengetahui kalau di dalam hati ibunya Al Qomah masih belum bisa memaafkan. Akhirnya oleh rosululloh di siasati seperti itu, yaitu akan di bakar hidup-hidup.
Sebagai orang tua mengetahui rencana Rosululloh seperti itu akhirnya menangis. Tidak tega melihat Al Qomah di bakar di hadapannya.
Kalau kamu tetap tidak memaafkan, Al Qomah tetap masuk neraka walaupun melaksanakan Sholat, Zakat, Puasa, Hajji karena lupa dengan jalannya.
Ibunya Al Qomah: Sungguh-sungguh saya sudah memaafkan, dia itu anak saya, buah hati saya Rosul…!
Kemudian shohabat di suruh membuktikan apakah AL Qomah sudah bisa mengucapkan Laa Ilaaha illalloh atau belum. Sesampainya di tempat Al Qomah ternyata Al Qomah sudah bisa mengucapkan Laa Ilaaha illalloh.
Jadi kalimat Tauhid itu terganjal tidak bisa di ucapkan karena orang tua, sebab AL JANNATU TAHTA AQDAMIL UMMAHAT.

Selasa, 20 November 2012

FAJRUL MAULUD

FAJRUL MAULUD

Oleh: Si Pincang
Category JATI DIRI
03 Muharram 1434H
19 November 2012
05:30
HIJRAH
Agama Islam mempunyai fajar namanya Fajrul Islam. Hari mempunyai fajar namanya Fajrul Yaum. Tiap-tiap manusia mempunyai fajar namanya Fajrul Maulud (Fajar Kelahiran). Fajar Islam adalah Hijrah. Hijrah dari Mekah ke Madinah. Ketika Islam masih di Mekah belum menjadi fajar, belum menyingsing masih gelap. Setelah pindah ke Madinah fajar menjadi terang dan Islam tersebar ke seluruh dunia.
Begitu pula malam ini gelap gulita, semuanya gelap baru tersingkap melalui fajar. Jadi fajar itu sinar matahari akan menyingkap kegelapan. Begitu pula waktu kita di dalam kandungan (dalam surat Az Zumar) di terangkan di liputi gelap 3 lapis. Kemudian fajar, fajar kita itu lahir kita.
  • Hijrah dari alam Rahim menuju ke alam dunia.
  • Hijrah dari alam sempit menuju ke alam luas.
  • Hijrah dari alam gelap menuju ke alam luas.
  • Hijrah dari alam kesepian menuju ke alam ramai.
  • Hijrah dari alam kandungan menuju ke alam sanjungan, perjuangan.

Pada waktu hijrah itu ibu kita mengalami jihad (berjuang sungguh-sungguh) akan mengeluarkan kita. Makanya kalau sampai ibu kita wafat hukumnya mati sahid karena perang. Air tumpah, darah semburat, perasaan gaduh, kekuatan menekan, lisan merintih-rintih, hati cemas, suaminya cemas, mohon kepada Alloh. Menentukan mati atau hidup waktu ibu melahirkan kita. Apalagi waktu sedang mengandung, di dalam AL Qur-an di sebutkan mengalami susah di atas kesusahan. Makan, duduk, tidur hati-hati. Ibu kita sungguh-sungguh jihad fi sabilillah pada waktu melahirkan kita. Itu adalah jalan jatidiri kita datang ke dunia ini.
Setelah berjuang dengan sungguh-sungguh kemudian lahir. Setelah lahir ibu mendengar tangis anaknya, hatinya menjadi bahagia. Sebaliknya apabila tidak menangis ibu menjadi susah karena anaknya mati. Seandainya hati ibu kita waktu itu tidak ketetesan Rohman Rohim dari Alloh maka tidak ada manusia yang hidup. Ini yang menyebabkan saya sakit.
Belum lagi setelah lahir seorang ibu harus menyiapkan segalanya. Anaknya ingin makan di suapi, ingin mandi di mandikan. Sejak mulai lahir sudah di ajarkan tolong menolong. Waktu lahir di tolong oleh bidan, bidan di tolong sie bayi. Kalau tidak ada bayi tidak ada bidan. Jadi harus sadar bahwa sie bidan di tolong sie bayi. Yang sakit di tolong dokter, dokter di tolong oleh yang sakit. Jadi tolong menolong.
Ketika di dalam kandungan namanya berada di Alam Rahim. Orang dahulu dan orang yang akan datang di sambung Alam Rahim. Andaikan dunia ini isinya manusia laki-laki semua maka manusia sudah punah. Begitu pula sebaliknya apabila hanya perempuan semua maka manusia di dunia ini juga sudah punah. Ada laki-laki dan juga ada perempuan tetapi tidak sambung maka manusia juga punah. Adanya manusia berkembang karena ada sambungan, di sambung di alam Rahim.
Sambung itu disebut = Shillah, tempatnya di namakan Rahim. Setelah lahir di perintah Shillaturrahim. Itu adalah jalan jati diri.
Setelah lahir bersamaan dengan orang banyak di istilahkan lahir bareng sedino. Menurut orang ujub, ngaweruhi kang lahir bareng sedino. Kalau ingat bahwa seluruh manusia di dunia ini saudara yang lahir bersamaan maka akan manjadikan damai, tidak saling bertengkar. Hidup sendirian di dunia tidak berani.
Makanya shillaturrahim itu kemanusiaan yang adil dan beradab (Sila ke dua dalam Pancasila). Di dalam lambang Negara RI di lambangkan rantai. Dan bentuknya rantai itu bulat dan persegi. Bulat itu melambangkan perempuan dan persegi melambangkan laki-laki. Bulat itu kalau di dalam bahasa arab di sebut (mu-annas) haadzihi disebut (isim Isyarah) di tujukan kepada perempuan. Dalam kalimat haadzihi huruf paling belakang adalah ha’ bulat, kalau laki-laki haadzaa.
Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, (Alloh) ini masalah keimanan. Dan Sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab. Supaya di perhatikan surat taerakhir dalam AL Qur-an;
Robbi (Tuhan), Maliki (nama Tuhan), Ilahi (nama Tuhan) ini masalah keimanan. Tetapi di belakangnya Nas (manusia), Nas (manusia), Nas (manusia). Robbinas, Malikinnas, Ilahinnas. Seperti itu hebatnya Pancasila kok ada ideology lain yang akan mengganti.
Jadi jalan jati diri kita itu lewat syukur, syukur kepada Alloh dan syukur kepada ibu kita. AL JANNATU TAHTA AQDAAMIL UMMAHAT.
Dalam Hadits nabi di sebutkan:
Semua kesalahan siksanya saya tangguhkan nanti di akhirat kecuali satu yang langsung di dunia yaitu berani terhadap ibu.
Di dunia ini sudah tidak tahu jalan jatidirinya, sampai ada yang di beritakan di surat kabar kalau ada anak yang membunuh orang tuanya di sebabkan minta uang tidak di beri.
Ada kisah seorang yang sahabat nabi yang sangat tekun beribadah, tapi sayangnya baktinya kepada orang tua dikalahkan oleh cintanya pada istrinya. Ikuti kisanya di tulisan selanjutnya…

Minggu, 18 November 2012

BERSYUKUR KEPADA ORANG TUA

BERSYUKUR KEPADA ORANG TUA

Oleh: Si Pincang
Category JATI DIRI
02 Muharram 1434H
17 November 2012
09:26
JALAN JATIDIRI MANUSIA
Apakah jalan jatidiri manusia itu?
Jati diri manusia ke dunia ini lewat mana? Jalan jatidiri itu  jalan menuju ke surga bukan jalan menuju ke neraka. Kalau tidak mengetahui jalan jatidirinya sendiri apapun tingkatannya di dunia ini, walaupun ibadahnya di dunia ini sungguh-sungguh seperti puasa, wiridan, naik Hajji sampai 27 kali jangan mengharap-harap masuk surga.
Persoalan jalan jatidiri manusia ini fondamental, jadi harus mengetahui jalannya. Lebih fondamental ini daripada wiridan. Wiridan sampai semalam suntuk tetapi tidak mengetahui jalannya, ini namanya dalam kebingungan. Kalau di dunia bingung nanti di akhiratpun juga kebingungan(wa adlollu sabiila).

Yang di maksud HAADZIHI itu dekat (disini) adalah di dunia ini. Walaupun 1000 tahun di dunia namanya tetap disini. Walaupun 1 juta tahun kalau di dunia ya disini. Kalau sudah meninggalkan dunia namanya di sana. Di dalam Al Qur-an surat Hajji/46 di sebutkan;
LAA TA’MAL ABSHOORO WALAKIN TA’MAL QULUUBUL LATII FIS SUDUR
Tidak buta mata lahirnya tetapi buta mata hatinya yang ada di dalam dada.
Yang di maksud buta ini bukan buta mata lahir tetapi buta mata hati. Manusia itu mempunyai 2 fikiran, fikiran di bawah sadar dan fikiran di muka sadar. Kalau di hati di bawah sadar ada 88 seperti lautan kalau di otak hanya sedikit seperti gunung es. Jadi yang di maksud buta itu buta mata hati tidak  mengetahui jalan jati diri. Sejatinya diriku ke dunia ini lewat mana? Tidak mengetahui. Rosululloh SAW. Bersabda;
QOOLA ROSUULULLOH SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA SALAM:
MAN WULIDA LAHU WALADUN FA’ADZ-DZANA FII UDNIHIL YUMNA WA AQOOMA FII UDNIHIL USRO LAM TADURRU UMMUSH SHIBYAN
Siapa yang mempunyai anak yang baru lahir di adzani telinga kanan dan di qomati telinga kiri tidak membahayakan kepada anak itu ummu sibyan (tidak bisa di tipu ummu sibyan).
Ummus Sibyan itu jin dan jin itu ada 2 macam, Jin halus dan jin kasar yang berbentuk manusia. (MINAL JINNATI WAN NAS). Syaithon itu ada 2 macam, syaithon halus dan syaithon kasar yang berbentuk manusia. Makanannya, pakaiannya dan juga bergaul dengan manusia tetapi tidak mengetahui kalau itu syaithon. Termasuk pintar mengaji dan wiridan, ada syaithon gundul dan ada syaithon gondrong. Jadi pakaiannya manusia tetapi dalamnya syaithon.
Yang paling mudah di usir itu syaithon bentuk jin cukup di bacakan ‘A’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM, atau di bacakan Ayat Kursi langsung lari.  Tetapi syaithon bentuk manusia apabila di bacakan Ayat Kursi juga ikut membaca Ayat Kursi. Qur-an dan hadits di pakai untuk tutup atau topeng tetapi dalamnya syaithon. Jadi harus hati-hati. Tetapi kalau mengetahui jati dirinya insyaalloh selamat.
LAM TADURRUHU UMMUS SIBYAN.
Apa sebabnya telinga kanan di adzani dan telinga kiri di qomati? Adanya di adzani dan di qomati agar tidak tuli. Di dalam Adzan dan qomat itu kalimat terakhir bunyinya LAA ILAAHA ILLALLOH, Hadits menerangkan;
MAN KAANA AAKHIRU KALAAMIHI LAA ILAAHA ILLALLOH DAKHOLAL JANNAH
“Barang siapa yang akhir ucapannya itu Laa Ilaaha illalloh masuk surga”.
Itu jalan menuju surga. Siapa yang melahirkan bayi itu? Seorang ibu, di dalam hadits di terangkan;
AL JANNATU TAHTA AQDAMIL UMMAHAT
Surga itu di bawah telapak kaki ibu.
Jadi jalannya jatidiri kita itu ya di situ. Begitu pula di dalam Al Qur-an di sebutkan;
WALLOHU AKHROJAKUM MIN BUTHUUNI UMMAHAATIKUM LAA TA’LAMUUNA SYAI-AA WAJA’ALA LAKUMUS SAM’A WAL ABSHOORO WAL AF-IDAH LA’ALLAKUM TASYKURUUN
Dan Alloh mengeluarkan kamu semua dari perut ibumu kamu tidak mengetahui apa-apa. Dan Alloh menjadikan pendengaran dan penglihatan dan hati. Supaya kamu bersyukur.
Syukur kepada siapa? Alloh Ta’ala menerangkan di dalam surat Al Isro’
WASYKURUULII WALIWALIDAIKA
Bersyukurlah kepadaku dan kepada orang tuamu.
Bersyukurlah kepadaku dan kepada orang tuamu, terutama kepada ibumu. Karena kamu datang ke dunia ini aku yang mengeluarkan, Aku yang menciptakan kamu dan ibumu yang menjadi jalannya.
Jadi bayi yang baru lahir di Adzani dan di Qomati itu mengingatkan jalan jatidiri manusia ke dunia ini melalui tauhid, kekuasaan Alloh dan melalui orang tua sekalian. Semuanya melalui jalan itu apakah itu raja, ulama, presiden. Al Qur-an meyebutkan:
USYKURLII WALIWALIDAYYA ILAIYAL MASHIIR
Syukurlah kapadaku dan kepada orang tuamu, kepadaku kamu jalan akan kembali.
Kalau lupa dengan jalan ini maka tidak bisa INNA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI ROOJI’UUN. Oleh sebab itu setiap selesai sholat berdoa kepada Alloh
ROBBIGHFIRLII WALIWALIDAYYA WARHAMHUMA KAMAA ROBBAYAANI SHOGHIIRO
Wahai Tuhan ampunilah aku dan orang tuaku dan kasihanilah orang tuaku sebagaimana orang tuaku mengasihi aku di waktu kecil

Kalau hari kamis dan apabila kedua atau salah satu orang tuanya sudah meninggal sholatlah Birrul Walidain. Sholat Birrul Walidain waktunya setelah Maghrib dan sebelum Isya’ (tengah-tengah), 2 rekaat. Sholat di tujukan kepada orang tua. Bacaannya tiap-tiap 1 rekaat,
  1. Ayat Kursi 5 x
  2. Qul a’udzu birbbil falaq 5 x
  3. Qul a’udzu birobbinnas 5x
Setelah salam membaca Sholawat Nabi 15 x
Istighfar 15 x
Keutamaan bacaan di haturkan kepada dua orang tua.
Mengapa yang di baca Ayat Kursi, surat Falaq, surat An Nas dan waktunya pun setelah waktu Maghrib dan sebelum Isya’, semuanya itu adalah rahasia.
Setiap manusia pasti mempunya FAJRUL MAULUD, artinya fajar kelahiran..yang disebut juga dengan HIJRAH. Insya Alloh di tulisan berikutnya akan kami tulis tentang FAJRUL MAULUD.

MAKNA TAHUN BARU HIJRIYYAH

MAKNA TAHUN BARU HIJRIYYAH

Oleh: Si Pincang
Category JATI DIRI
29 Dzulhijjah 1433H
15 November 2012
14:46
1.  MAKNA HIJRAH
Tiap-tiap tahun tepat pada bulan Asyuro umat Islam mengadakan ulang tahun, Tahun baru Hijriyah atau tahun baru Islam. Akan tetapi ulang tahunnya ada yang bermakna bagi hidup dan kehidupannya dan ada pula berulang tahunnya tidak ada maknanya bagi hidup dan kehidupannya. Supaya tidak sia-sia dan bermakna bagi hidup dan kehidupannya perlulah kita menghayati apa arti tahun baru bagi hidup dan kehidupan kita. Apa arti hijrah bagi hidup dan kehidupan kita. Di waktu kata Hijrah di sebut teringatlah, sebenarnya manusia ini adalah makhluq yang sedang hijrah. Hijrah artinya pindah.

Pertama kita hijrah dari alam Arwah menuju ke alam rahim (kandungan ibu kita). Setelah itu kita hijrah dari kandungan ibu kita ke alam dunia. Setelah itu manusia akan hijrah meninggalkan alam dunia pindah ke alam barzah. Dan setelah itu manusia melanjutkan perjalanan hijrah dari alam barzah ke alam akhirat.
Sampailah perjalanan kita sekarang ini di alam dunia setelah kita meninggalkan 2 alam, alam Arwah dan alam Arham. Dan yang belum kita masuki alam barzah dan alam akhirat. Sekarang kita di tengah-tengah perjalanan hijrah bertemulah di sini 2 jalan, ada jalan yang menuju ke surga dan ada jalan yang menuju ke neraka.
2.  MAKNA TAHUN BARU HIJRAH
Bagi orang Islam apakah arti tahun baru Hijriyyah bagi hidup kita? Barulah ada maknanya kalau kita mau memperbarui keinsyafan kita, memperbarui syukur kita, memperbarui semangat ibadah kita, memperbarui faham kita terhadap agama kita, memperbarui tauhid, memperbarui taubat. Kalau sudah demikian itulah ada artinya tahun baru hijriyyah bagi diri kita masing-masing. Karena sabda Rosululloh SAW.
JADDIDUU IIMAANAKUM AKTSIRUU MIN KULLI LAA ILAAHA ILLALLOH
Bersabda Rosululloh SAW.
Perbaruilah imanmu dan perbanyaklah dari ucapan Laa ilaaha illalloh.
Apa artinya tahun baru bagi kita apabila kita tidak memperbarui, kalau kita tidak hijrah.
  • Hijrah dari syirik ke tauhid.
  • Hijrah dari kedloliman ke keadilan.
  • Hijrah dari kefasikan ke keimanan.
  • Hijrah dari kekufuran ke syukur
  • Hijrah dari tabat kepada taubat.
Itulah tahun baru hijrah yang ada artinya bagi hidup dan kehidupan kita. Selama kita tidak hijrah dari hal-hal yang di larang oleh Alloh selama itu tidak ada artinya hijrah. Tidak ada artinya kita memperingati tahun hijriyyah dalam hidup dan kehidupan kita masing-msing selama kita tidak hijrah.
QOOLA ROSUULULLOH SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALAM:
AFDHOLI MUHAAJIRIINA MAN HAJARO MAN AUHA ANHU WA AFDHOLU JIHAADI MAN JAHADA NAFSAHU FII DZAATIL AZZA WAJALLA
Bersabda Rosululloh SAW.:
Utama-utamanya Hijrah yaitu orang yang hijrah dari sesuatu yang di larang oleh Alloh Ta’ala kepada sesuatu yang ridloi oleh Alloh Ta’ala.
Rosululloh SAW. pernah bersabda yang di tujukan kepada shohabat Abi Dzar.
YAA ABA DZAR JADDIDIS SAFIINATA FA INNA BAHROL AMIIQ
Dalam kitab Al Munabbihat alal isti’dadi yaumil ma’ad
Yaa Abi Dzar, perbaruilah kapalmu sesugguhnya lautan itu amat dalamnya, dan ambilah perbekalan yang sempurna yang cukup maka sesungguhnya perjalanan musafir kita itu masih jauh dan peringanlah muatan dunia dalam dirimu sesungguhnya tanjakan itu tinggi seperti bukit dan ikhlaslah beramal sesungguhnya Dzat yang maha memeriksa selalu memeriksa kita.
3. WAJIB INGAT ALLOH
Memang tidak mudah, tidak mungkin kita dapat memperbarui hijrah dari hal-hal yang di larang Alloh menuju hal-hal yang di perbolehkan Alloh. Membutuhkan perjuangan yang berat tanpa perjuangan tidak mungkin kita akan dapat hijrah. Dengan hijrah itulah kita akan mencapai kesegaran. Kesegaran iman, hati, ibadah, pikiran dan aqal. Tanpa kesegaran kita akan mengalami layu di tengah-tengah musafir kita menuju alam akhirat. Rosululloh SAW pernah bersabda:
INNA LIKULLI SA’ATIN HALAKUN FAHUWA IBNU ADAM AL MAUT FA’ALAIKUM BIDZIKRILLAH
Tiap-tiap orang yang berjalan pasti ada hingganya dan hingganya perjalanan manusia itu mati maka kamu semuanya wajib ingat kepada Alloh maka dzikir kepada Alloh itu memudahkan hidupmu dan kamu bisa senang terhadap akhirat.
  • Ingat akan kebesaran Alloh
  • Ingat akan kasih sayang Alloh
  • Ingat akan keadilan Alloh
  • Ingat akan nikmat-nikmat Alloh yang telah di limpahkan kepada kita
  • Ingat akan rohmat Alloh
  • Ingatlah pertanggungan jawab kita terhadap Alloh nanti
Maka kamu wajib ingat kepada Alloh di mana saja, kapan saja dalam keadaan bagaimana saja. Di waktu berjalan, duduk berbaring dan sebagainya. Di waktu susah, gembira, lapang, sempit wajib ingat kepada Alloh.
Mudah-mudahan kita menjadi manusia yang betul-betul mau memperbarui iman dan ibadah kita.

AWAL TAHUN 1434 H

AWAL TAHUN 1434 H

Oleh: Si Pincang
Category SPIRITUAL
25 Dzulhijjah 1433H
11 November 2012
07:05
MACAMNYA BINTANG (BURUJ).
Dalam Alqur-an banyak diterangkan bahwa Alloh Ta'ala telah menciptakan langit dan di langit itu ada gugusan bintang-bintang. Diantara ayatnya yang menerangkan :
"Dan perhatikanlah langit yang mempunyai gugusan bintang-bintang ". (Al buruj ayat 1).
"Dan sungguh kami telah menjadikan di langit gugusan bintang-bintang ". ( Al hijr ayat 16).
"Maha Barokah Dzat yang telah menjadikan di langit gugusan bintang-bintang ". ( Al furqon ayat 61 )
Dan gugusan bintang (buruj) tersebut ada 7,  adapun namanya 7 bintang (buruj) itu ialah :
  1. Buruj Syamsi.
  2. Buruj Qomari.
  3. Buruj Marikh.
  4. Buruj Athorith.
  5. Buruj Musytari.
  6. Buruj Zuhro.
  7. Buruj Zuhal.

FUNGSINYA BINTANG-BINTANG (BURUJ)
Fungsinya bintang-bintang (buruj) itu ialah sebagai petunjuk, sebagaimana diterangkan dalam Alqur-an :
" Dan ada beberapa alamat dan dengan bintang mereka mendapat petunjuk ". (An-nahl ayat 16)
  
BINTANGNYA TAHUN 1434 H.
Akhir tahun 1433 adalah jatuh hari Rabo dan awal tahun 1434 H adalah jatuh pada hari Kamis. Jika ditambah pasaran Jawa jadilah Kamis Pon dan jika di jumlah = 15. Adapun bintangnya (burujnya) ialah MUSYTARI.
Menurut hadis Nabi : Di akhir tahun (tutup tahun) harus puasa sehari dan diawal  tahun juga harus puasa sehari.

PENGARUH BINTANG MUSYTARI.
Berdasarkan petunjuk Alqur-an :
" Dan ada beberapa alamat dan dengan bintang itu mereka mendapat petunjuk ". (An-nahl ayat 16).
Maka dengan bintang Musytari itu bisalah diketahui beberapa alamat atau petunjuk, diantaranya :
  • Akan terjadi hal-hal yang positif dan juga akan terjadi hal-hal yang negatif.
  • Di tahun ini mungkin karena kecelakaan-kecelakaan kecil akan bisa membawa kematian.
  • Bahan-bahan makanan, seperti beras dan sejenisnya mungkin tidak akan mahal.  Akan tetapi lainnya mungkin akan melangit. 
  • Akan terjadi banyak angin. ( Mengenai maknanya supaya dicari sendiri atau diangan-angan sendiri ).
    Tapi insya Alloh pemerintah akan mengupayakan sungguh-sungguh ke keadilan, hanya saja banyak yang meremehkan ke keadilan.
  • Akan banyak orang kaya. (Entah kaya apa).

AMALAN UNTUK MENGANTISIPASI HAL-HAL YANG NEGATIF DI TAHUN INI.
Karena bakal muncul hal-hal yang negatif, lebih-lebih karena wataknya Musytari itu api (tersentuh sedikit saja menyala) maka untuk mengantipasinya hendaklah mengamalkan :
1.   INNAL LADZIINA QOOLUU ROBBUNAL LOOHU TSUMMAS TAQOOMUU TATANAZ ZALU 'ALAIHIMUL MALAAIKATU ALLAA TAKHOOFUU WALAA TAKHZANUU WA-ABSYIRUU BIL JANNATIL LATII KUNTUM TUU'ADUUN.
( Dalam surat Hamis sajadah / Fushilat ayat 30 )
2.   WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL 'ALIYYIL 'ADZIIM.
3.   WASHOLLALLOOHU 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA'ALAA AALIHI WASHOHBIHI WASALLIM.
Caranya dibaca 7 X  ditiap-tiap setelah Shubuh dan setelah Maghrib dengan memohon kepada Alloh " Mudah-mudahan di tahun panas ini kita diberi keselamatan ".

Sabtu, 10 November 2012

APAKAH MA-UL HAYAT ITU ?..

APAKAH MA-UL HAYAT ITU ?..

Oleh: Si Pincang
Category MA-UL HAYAT
24 Dzulhijjah 1433H
10 November 2012
09:12
Menurut Alqur-an Ma-ul Hayat itu adalah:
1-  Air yang mengandung hidup (MAA-UN  HAYYUN )
Sebagaimana tersebut dalam Alqur’an :
WAJA’ALNAA MINAL MAA-I KULLA SYAI-IN HAYYIN AFALAA YU’MINUUN.
Artinya:”Dan Kujadikan dari air tiap-tiap hidup, apakah kamu tidak beriman..?”.(surat Al Anbiya’/s.21/ayat 30)
Disini ada kalimat “AIR”, lalu kenapa dihubungkan dengan Iman?……   
2-  Air suci ( MAA-AN THOHUURON)
Sebagaimana tersebut dalam Alqur’an :
WA ANZALNAA MINAS SAMAA-I MAA-AN THOHUUROO.
Artinya:”Dan Aku turunkan dari langit air suci”.(surat Al Furqon/s.25/ayat  48)
Menurut makna dhohir, yang dimaksud “ LANGIT “ disini adalah “LANGIT DHOHIR” yaitu langit yang menurunkan air hujan. Dan kalau menurut makna bathin, yang dimaksud “LANGIT” disini adalah “BUKAN LANGIT DHOHIR akan tetapi  LANGIT RUHANI”.

3-  Air Barokah (MA-AN MUBAA ROKAN)
Sebagaimana tersebut dalam Alqur’an :
WANAZZALNAA MINAS SAMAA-I MAA-AN MUBAAROKAN.
Artinya:”Dan Saya turunkan dari langit air yang diberkahi”.(surat Qof/s.50/ayat.9)         
4- Air yang menyegarkan ( MAA-AN GHODAQOO)                                            
Maa-an Ghodaqoo yang dimaksud disini adalah air yang menyegarkan, yaitu menyegarkan pikiran, menyegarkan hati, menyegarkan perasaan. Sebagaimana tersebut dalam Alqur’an:
WA AN LAWIS TAQOOMUU ‘ALATH THORIIQOTI LA-ASQOINAAHUM MAA-AN GHODAQOO.
artinya:”Dan jika mereka itu tetap berjalan atas Thoriqotnya, benar-benar kami akan memberikan kepadanya air yang segar”.  (surat  Jin /s 72 /ayat 16).
Jadi air hidup, air suci, air barokah, air segar ini semua haqeqatnya adalah sama, yaitu MA-UL HAYAT. Akan tetapi  kalau makna dhohir yaitu air-air yang turun seperti air hujan, turun dari langit biasa. Oleh karena ada makna bathin, maka yang dimaksud Ma-ul Hayat itu bukan air biasa, akan tetapi air yang turun dari langit  ruchani (langit bathin) bukan langit dhohir.
Ditulisan berikutnya, akan kami sampaikan tentang HIKMAH MAUL HAYAT. Tulisan-tulisan disini kami atur sedemikian rupa, sehingga ketika dibaca tidak terasa begitu mendalam. Semua kembali kepada rohani kita masing-masing dalam merenungkannya.

HIDUP HAKEKAT

HIDUP HAKEKAT

Oleh: Si Pincang
Category MA-UL HAYAT
21 Dzulhijjah 1433H
8 November 2012
05:31
MAKSUD AJAKAN ALLOH DAN ROSULULLOH
Kemudian ajakan Alloh dan Rosululloh yang ada di Al Qur-an yakni orang beriman diperintah mendatangi atau menerima sesuatu yang sesuatu itu bisa menghidupkan orang mukmin, ini hidup yang bagaimana maksudnya?
  • Apakah hidup 'idhofiyyah ?
  • Apakah hidup shifatiyyah ?
  • Apakah yang dimaksud hidup tersebut hidup yang ditandai oleh perkembangan atau hidup yang ditandai oleh keluar masuknya nafas atau hidup sandaran ?

Yang dimaksud hidup disini adalah bukan hidup ‘Idhofiyyah. Sebab kalau hidup ‘idhofiyyah, maka kucing itu saja sudah hidup ‘idhofiyyah, kerbau juga begitu yakni hidupnya ditandai oleh keluar masuknya nafas.
Jadi kalau yang dimaksud hidup disitu adalah hidup hubungan antara jasmani dan ruhani maka ini tahsilul hasil. Sebab orang mukmin sebelum diperintah hidup tersebutpun sudah hidup, tidak ada bedanya dengan hidupnya orang dholimin, kafirin, musyrikin, fasiqin. Jadi yang dimaksud bukan hidup sandaran.
Lalu kalau bukan hidup sandaran, apakah hidup shifatiyyah ?
Jawabnya inipun bukan, itu mustahil, itu tahsilul hasil. Sebab semua ruh, apakah itu ruhnya orang mukmin atau ruhnya orang kafir, pokoknya semua ruh itu hidup dengan sifat.
Kalau begitu yang dimaksud itu kita ini supaya menyambut ajakan Alloh dan Rosululloh itu supaya kita bisa hidup, lalu hidup yang bagaimana?
Ini jawabannya yang jelas bukan hidup ‘idhofiyyah, bukan hidup shifatiyyah tapi hidup hakekat atau hidup haqiqiyyah. Makanya dalam Al Qur-an surat An-Naml diterangkan bahwa orang kafir itu disebut mati. Dalam ayat tersebut Kanjeng Nabi didawuhi oleh Alloh Ta’ala :
INNAKA LAA TUSMI’ULMAUTA WALAA TUS-MI’USHSHUMMADDU’AA-A IDZAA WALLAU MUDBIRIIN (An-Naml / 80).
Artinya : (Muhammad !) Kamu tidak bisa membuat mendengar orang yang mati dan orang yang tuli dan ketika orang mati itu berpaling dengan mungkur (tolah-toleh dengan membelakang).
Saudara angan-angan, ada orang mati kok bisa membelakangi dan tolah-toleh. Jadi orang kafir itu masih mati, jangankan orang kafir, orang mukminpun masih disebut mati kalau selama belum hidup hakekat. Disebut mati bukan dari segi shifatiyyah, mati bukan segi ‘idhofiyyah tapi mati dari segi haqiqiyyah.
Jadi selama kita ini belum minum Ma-ul Hayat atau air yang dimaksud dalam surat Al-Anfal :
 “Limaa Yuhyiikum”, maka kita masih mati.
(Limaa) : Untuk sesuatu.
(Yuhyiikum) : Untuk menghi-dupkan kamu semua.
Kalimat “Limaa”, Maa-nya ditambah huruf hamzah maka menjadi “Maa-un” yang artinya air.
Kalimat “Yuhyiikum” diambil kalimat hayatnya maka kalau digabung menjadi kalimat : (Maa-ul Hayat).
Jadi kita ini hukumnya masih mati, selama kita ini belum minum Maa-ul Hayat. Jadi kalau dilihat dari segi hidup hakekat, maka mayit itu banyak sekali tidak bisa dihitung.
  • Ada mayit bertengkar.
  • Ada mayit berjualan.
  • Ada mayit berpidato.
  • Ada mayit mengaji.
  • Ada mayit berpolitik.
  • Ada mayit memerintah.
  • Ada mayit mendapat piala.
Ini kalau dilihat dari segi hidup hakekat. Kalau kita belum bisa mencapai hidup haqiqiyyah, kita hanya hidup shifatiyyah saja, maka apa bedanya hidup kita dengan hidupnya orang kafir ?
Kalau hidup kita hanya hidup 'idhofi, maka hewanpun hidup 'idhofi, kalau begitu apa bedanya kita dengan hayawan ?
Kita sebagai orang mukmin, hidup kita haruslah berbeda dengan hidupnya orang kafir, haruslah berbeda dengan hayawan. Dan kalau kita belum hidup hakekat itu artinya kita belum menyambut ajakan Alloh dan ajakan Rosululloh. Lalu kalau begitu ajakan siapakah yang kita sambut ?
Ya berarti ajakan iblislah yang kita sambut.
Ajakannya siapakah, kalau bukan ajakannya Alloh dan Rosululloh yang kita sambut itu ?
Dan kapan kita menyambutnya ?
Kapan ?
Kapan ?
Apakah menunggu masuk alam barzakh ?
Itu tidaklah mungkin !
Jadi secara mudahnya, kita itu diperintah supaya kita hidup hakekat, bukan sekedar hidup-hidupan saja, bukan hidup jasmaniyyah dan ruhaniyyah tapi hidup hakekat. Hidup hakekat itulah sebenar-benarnya hidup ‘Indalloh.
Kalau hidupnya jasmani, maka hayawan sapi, kambing itu juga hidup. Kalau hidup ruhaniyyah, maka ruhaninya semua orang kafir itu juga hidup.
***
HIDUP HAKEKAT ADALAH HIDUPNYA IMAN
Dan kita sebagai orang mukmin maka hidupnya haruslah berbeda dengan orang kafir yang hidupnya hanya hidup sandaran dan hidup shifatiyyah dan kita harus hidup diatasnya yakni hidup hakekat. Dan hidup hakekat itu ialah “Hayaatul Iman” : hidupnya iman. Dan iman itu ialah merupakan benang halus, benang sutera, tali penghubung antara hamba dengan Alloh. Bukannya ibadah itu tali penghubung tapi imanlah tali penghubung antara kita dengan Alloh Ta’ala. Adapun ibadah ialah hanya merawat iman, ibadah itu untuk memperkuat tali penghubung. Jadi tali penghubung itu bisa mati dan bisa hidup.
Pada tulisan selanjutnya akan kita mulai tentang Apakah MAUL HAYAT ITU ?  tapi sementara akan kami muat tulisan dalam rangka menyambut tahun baru 1434 H…
Semoga manfaat..

Kamis, 08 November 2012

Dalil, Bacaan Al-Qur’an, Doa & Tahlil untuk Orang Mati

Dalil, Bacaan Al-Qur’an, Doa & Tahlil untuk Orang Mati


Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:
وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى
Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)
Juga hadits Nabi MUhammad SAW:
اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ
Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.
Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :
وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن
Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)
Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.
وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ
Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)
سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ
Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).
Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.
Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.
Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.
Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:
عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ
Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.
Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.

Tahlil adalah suatu acara seremoni sosial keagamaan untuk memperingati dan sekaligus mendoakan orang yang meninggal. Disebut acara sosial-budaya karena tahlil hanya dikenal dan dilakukan oleh sebagian umat Islam Indonesia. Disebut acara keagamaan karena sebagian besar bacaan-bacaan dalam tahlil diambil dari Al Quran dan Al Hadits dan bertujuan untuk mendoakan orang yang meninggal.


KHUSUSAN FATIHAH TAHLIL

إلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْفَاتِحَةْ
ثُمَّ إلَى حَضْرَةِ إِخْوَانِهِ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَاْلأَوْلِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَاْلعُلَمَاءِ وَاْلمُصَنِّفِيْنَ وَجَمِيْعِ اْلمَلاَئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ اَلْفَاتِحَةْ
ثُمَّ إليَ جَمِيْعِ أَهْلِ اْلقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ اْلاَرْضِ وَمَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصًا اَبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادَنَا وَجَدَّاتِنَا وَمَشَايِخَنَا وَمَشَايِخَ مَشَايِخِنَا
وَلِمَنِ اجْتَمَعْنَا هَهُنَا بِسَبَبِهِ وَخُصُوْصًا......... اَلْفَاتِحَةْ


BACAAN TAHLIL
Bacaan-bacaan detail tahlhl ada sedikit perbedaan antara satu daerah dengan daerah yang lain walaupun tidak begitu prinsip. Bacaan di bawah merupakan standar umum bacaan tahlil.
Surat Al-Ikhlas dibaca 3x.
Surat Al Falaq dan An Nas masing-masing dibaca sekali.
Surat Al Fatihah 1x.
Surat Al Baqarah Ayat 1- Ayat ke 5.


سْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَد

لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ اَللهُ أَكْبَرْ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ * مِن شَرِّ مَا خَلَقَ * وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ *
وَمِن شَرِّ النَّفَّـثَـتِ فِى الْعُقَدِ * وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ اَللهُ أَكْبَرْ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ اَللهُ أَكْبَرْ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّين أمِينْ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. الم ذَلِكَ اْلكِتَابُ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ. اَلَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ.وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْاخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ. اُولئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَاُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ. وَإِلهُكُمْ إِلهُ وَاحِدٌ لاَإِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ اللهُ لاَ إِلَهَ اِلاَّ هُوَ اْلحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَتَأْخُذُه سِنَةٌ وَلاَنَوْمٌ. لَهُ مَافِى السَّمَاوَاتِ وَمَافِى اْلأَرْضِ مَنْ ذَالَّذِى يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَابَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَيُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَلاَ يَؤدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ. لِلّهِ مَافِى السَّمَاوَاتِ وَمَا في اْلأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوْا مَافِى أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوْهُ
يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللهِ فَيُغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ. وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. امَنَ الرَّسُوْلُ بِمَا أُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَبَّهِ وَالْمُؤْمِنُوْنَ. كُلٌّ امَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَنُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ. لاَيُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَاكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَتُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَ أَوْ أَخْطَعْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَطَاقَةَ لَنَا بِهِ

وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا 7
أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. إِرْحَمْنَا يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ 7

أللّهمّ اصْرِفْ عَنَّا السُّوْءَ بِمَا شِئْتَ وَكَيْفَ شِئْتَ إِنَّكَ عَلَى مَاتَشَاءُ قَدِيْرُ 3

وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. إِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا.

أَللّهُمَّ صَلِّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ نُوْرِ الْهُدَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ. عَدَدَ مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ. وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ.

أَللّهُمَّ صَلِّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ شَمْسِ الضُّحَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْعَدَدَ
مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ. وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ

أَللّهُمَّ صَلِّ أَفْضَلَ*الصَّلاَةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ بَدْرِ الدُّجَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ. عَدَدَ مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ. وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ.

وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ سَادَتِنَا أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. وَحَسْبُنَا الله وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ. وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْم 3

أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ حَيٌّ مَوْجُوْدٌ لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ حَيٌّ مَعْبُوْدٌ لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ حَيٌّ بَاقٍ ,

اَإِلهَ إِلاَّ اللهُ 100
لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ
لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ نَبِيُّ الله
لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ الله
أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ
أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ يَارَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ

بْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ 33
أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ
أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ
أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ أَجْمَعِيْنَ. الفاتحة



DOA SETELAH TAHLIL


أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمن الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ. أَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ فِى اْلأَوَّلِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ فِى اْلأخِرِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ فِى كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ فِى اْلمَلَإِ اْلأَعْلَى إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ . أَللّهُمَّ اجْعَلْ وَأَوْصِلْ ثَوَابَ مَا قَرَأْنَاهُ مِنَ اْلقُرْأنِ الْعَظِيْمِ . وَمَا هَلَّلْنَاهُ مِنْ قَوْلِ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَقَوْلِ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ وَمَا صَلَّيْنَاهُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ فِى هذَااْلمَجْلِسِ اْلمُبَارَكِ هَدِيَّةً وَاصِلَةً إِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِناَ وَنَبِيِّناَ وَمَوْلَناَ مُحَمَّدٍ ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ أباَئِهِ وَإِخْوَانِهِ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ وَاْلمُرْسَلِيْنَ وَأَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ وَأَهْلِ بَيْتِهِ أَجْمَعِيْنَ
وَاْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَالأَئِمَّةِ اْلمُجْتَهِدِيْنَ وَاْلعُلَمَاءِ اْلعَامِلِيْنَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ أَجْمَعِيْنَ . وَخُصُوْصًا إِلى رُوْحِ ( فُلَانْ إِبْنُ فُلَانْ ) أَللّهُمَّ اجْعَلْهُ فِدَاءً لَهُ مِنَ النَّارِ وَفِكَاكاً لَهُمْ مِنَ النَّارِ . أَللّهُمَّ اغْفِرْلَهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ وَوَالِدِيْنَا وَوَالِدِيْهِمْ وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ . أَللّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلَامَ وَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ اْلكَفَرَةَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ , وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلى يَوْمِ الدِّيْنِ , أَللّهُمَّ أَمِنَّا فِىْ دُوْرِنَا , وَأَصْلِحْ وَلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلِ اللّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَ وَاتَّقَاكَ . أَللّهُمَّ انْصُرْ سُلْطَانَنَا سُلْطَانَ اْلمُسْلِمِيْنَ , وَانْصُرْ وُزَرَاءَهُ وَوُكَلاَءَهُ وَعَسَاكِرَهُ وَعُلَمَاءَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَاكْتُبِ السَّلاَمَةَ وَاْلعَافِيَةَ عَلَيْنَا وَعَلَى اْلحُجَّاجِ
وَاْلغُزَاةِ وَاْلمُسَافِرِيْنَ وَاْلمُقِيْمِيْنَ فِى إِنْدُوْنَيْسِيَّا وَغَيْرِهِمْ مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَألِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَاْلحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
أمين

Sumber:
KH Nuril Huda
Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)

Maksud dari Singgasana Tuhan?

Maksud dari Singgasana Tuhan?

Ada sekelompok aliran dalam Islam yang menafsirkan bahwa arsy Ilahi itu adalah singgasana Tuhan yang terdapat nun jauh di atas sana. Kalau penafsiran ini benar tentu saja meniscayakan tempat dan kedudukan bagi Tuhan, yang menduduki dan diduduki haruslah memiliki rangkapan, volume, isi dan ruang. Bagaimana penafsiran hal ini?
Adapun pertanyaan ihwal arsy dalam ayat Al-Qur’an terdapat kira-kira dua puluh ayat yang mengisyaratkan ‘Arsy Tuhan. pendapat di atas adalah sebuah penafsiran bahwa arsy itu adalah singgasana Tuhan yang terletak nun jauh di atas sana. Secara sepintas, pertanyaan ini telah terjawab. Acapkali telah kami katakan bahwa dengan kata-kata yang sering digunakan untuk menjelaskan tipologi kehidupan materi yang serba terbatas ini, kita tidak dapat menjelaskan keagungan Tuhan, dan bahkan keagungan seluruh makhluk-Nya. Atas alasan ini, dengan menggunakan arti figuratif, kata ini kita gunakan untuk menggambarkan seluruh keagungan Tuhan.
Dan di antara kata-kata yang memiliki karakter seperti ini adalah ‘Arsy yang secara leksikal berarti atap atau singgasana yang berkaki panjang, sebagai lawan dari “Kursî” yang bermakna singgasana berkaki pendek. Lalu, kalimat ini digunakan dalam singgasana kekuasaan Ilahi sebagai ‘Arsy Ilahi.
Apa maksud dari ‘Arsy Ilahi itu dan apakah arti dari kalimat ini metaforik? Para penafsir, ahli hadis dan filsuf telah banyak menjabarkan masalah ini.
Terkadang ‘Arsy ditafsirkan sebagai ilmu Nir-batas Allah swt, terkadang ditafsirkan sebagai kemahamilikan (mâlikiyah) dan kemahaberkuasaan (hâkimiyah) Allah swt, dan terkadang diartikan sebagai keserbasempurnaan (kamâliyah) dan kebesaran (jalâliyah) Tuhan. Sebab, setiap sifat-sifat ini menunjukkan betapa agung kedudukan-Nya. Sebagaimana singgasana para sultan sebagai lambang keagungan mereka.
Benar bahwa Allah swt memiliki ‘Arsy ilmu, ‘Arsy kekuasaan, ‘Arsy kemahapengasihan dan ‘Arsy kemahapenyayangan.
Sesuai dengan tiga penafsiran di atas, arti ‘Arsy kembali kepada sifat-sifat Dzat kudus Ilahi, bukan kepada wujud yang lain. Sebagian hadis Ahlul Bait a.s. yang sampai kepada kita juga menguatkan makna ini. Seperti sebuah hadis yang memuat pertanyaan Hafsh bin Giyats kepada Imam Ash-Shadiq tentang tafsir ayat “wasi’a kursiyyuhus samâwâti wal ardh”. Imam berkata, “Maksud ayat ini adalah Ilmu Allah.”[1]
Dan dalam hadis yang lain, masih dari Imam Ash-Shadiq a.s., ‘Arsy bermakna ilmu yang diwarisi oleh para nabi, dan Kursî berarti ilmu yang tidak dimiliki oleh siapa pun. [2]
Dengan berinsprasi dari riwayat-riwayat yang lain, sebagian mufassir menafsirkan ‘Arsy dan Kursî sebagai dua wujud yang agung dari makhluk-makhluk Allah swt. Misalnya, sebagian orang berkata, “Maksud dari ‘Arsy adalah kumpulan alam semesta.” Dan terkadang disebutkan kumpulan langit dan bumi ini berada dalam Kursî, akan tetapi langit dan bumi di hadapan Kursî adalah laksana lingkaran cincin yang berada di jalan yang sangat luas, dan Kursî yang berada di hadapan ‘Arsy, laksana lingkaran cincin di jalan yang amat luas.
Selain itu, ‘Arsy acapkali dipredikasikan sebagai hati para nabi, para washi, dan mukminin yang kamil, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis, “Sesungguhnya hati seorang mukmin adalah ‘Arsy Allah.”[3] Juga dalam hadis yang lain disebutkan, “Langit dan bumi tidak mampu memuat-Ku, akan tetapi Aku termuat dalam diri hamba-Ku yang mukmin.” [4]
Namun, jalan yang terbaik untuk memahami makna sejati dari ‘Arsy -tentu saja sesuai dengan kadar kemampuan manusia- adalah menelaah secara teliti penggunaan kalimat ini dalam Al-Qur’an.
Pada banyak ayat Al-Qur’an, kita jumpai redaksi kalimat ini misalnya: “Allah [setelah berakhirnya penciptaan semesta] berkuasa atas ‘Arsy.” (QS. al-A’raf: 54, Yunus: 3, ar.Ra’d: 2, al-Furqan: 59, as-Sajdah:4, dan al-Hadid: 4). Dalam ayat-ayat yang lain, kita jumpai adanya penyifatan ‘Arsy, seperti penyifatannya dengan al-’azhim pada ayat: “Ia-lah Tuhan ‘Arsy yang agung.” (QS. at-Taubah [9]: 129).
Dalam beberapa ayat Al-Qur’an, ada juga pembahasan mengenai pembawa ‘Arsy. Terkadang disebutkan bahwa “‘Arsy Allah berada di atas air.”
Dari semua redaksi itu dan redaksi lain yang dinukil dari hadis-hadis, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ‘Arsy telah digunakan pada beberapa makna yang beragam, yang kendati demikian memiliki akar kata yang umum.
Salah satu makna ‘Arsy adalah kedudukan pemerintahan, kepemilikan dan pengaturan alam semesta. Karena secara umum dan luas, kalimat ‘Arsy digunakan sebagai ungkapan metaforik yang berarti kekuasaan seorang negarawan atas urusan suatu negara. Kita sering berkata, “Fulan tsalla ‘arsyahu.” Artinya adalah kiasan bahwa kekuasaannya telah tumbang. Dalam bahasa Persia juga kita berkata, “Pâyeha-ye takht-e u dar ham syekast (sendi kekuasaannya telah hancur).”
Arti lain dari ‘Arsy adalah totalitas alam keberadaan. Karena, seluruh jagad ini menunjukkan keagungan-Nya. Dan acap kali ‘Arsy diartikan sebagai alam atas (‘ulyâ), dan Kursî bermakna alam bawah (suflâ).
Terkadang ‘Arsy bermakna alam nonmateri dan Kursî berarti alam materi, dan digunakan lebih umum dari bumi dan langit. Sebagaimana dalam ayat Kursi disebutkan, “wasi’a kursiyyuhus samâwâti wal ardh”.
Dan karena antara makhluk dan pengetahuan Allah swt tidak terpisah dari Dzat kudus-Nya, terkadang ‘Arsy berarti sebagai ilmu Tuhan.
Dan apabila hati para hamba beriman disebut sebagai (‘arsy ar-Rahman), karena hati merupakan tempat persemayaman makrifat terhadap Dzat kudus Ilahi dan tanda keagungan serta kekuasan Allah swt.
Oleh karena itu, dari indikasi-indikasi (qarâ’in) yang ada, kita dapat memahami makna ‘Arsy yang dimaksudkan. Akan tetapi, bagaimanapun, makna umum yang terdapat kata itu adalah kebesaran dan keagungan Allah swt.
Pada ayat yang menjadi topik pembahasan disebutkan ungkapan “pembawa ‘Arsy Ilahi”. Barangkali maksud dari ‘Arsy dalam ayat ini adalah pemerintahan (hukûmah) Allah swt dan pengaturan (tadbîr) alam semesta. Dan pembawa ‘Arsy Ilahi adalah pelaksana pemerintahan dan pengaturan alam semesta. Juga boleh jadi bermakna kumpulan alam penciptaan atau alam metafisik, dan pembawanya adalah para malaikat yang memikul ‘Arsy ini atas perintah Allah swt yang merupakan landasan pengaturan semesta ini. [5] wallahu a'lam..

Rabu, 07 November 2012

Jenis Manusia

Jenis Manusia

Oleh: Si Pincang
Category COPAS KITAB, JATI DIRI
28 Ramadhan 1431H
7 September 2010
13:42

Ada empat jenis manusia.
 
Yang pertama, tak berlidah dan tak berhati. Mereka adalah manusia biasa, bodoh dan hina. Mereka tak pernah ingat kepada Allah. Tiada kebaikan dalam diri mereka. Mereka bagai sekam tak berbobot, jika Allah tak mengasihi mereka, membimbing hati mereka kepada keimanan pada-Nya Sendiri. Waspadalah, jangan menjadi seperti mereka. Inilah manusia-manusia sengsara dan dimurkai oleh Allah. Mereka adalah penghuni-penghuni neraka. Kita berlindung kepada Allah dari mereka. Hiasilah dirimu dengan ma'rifat. Jadilah guru kebenaran, pembimbing ke jalan agama, pemimpinnya dan penyerunya. Ingat, bahwa kau mesti mendatangi mereka, mengajak mereka kepada ketaatan kepada Allah dan memperingatkan mereka akan dosa terhadap Allah. Maka, kau akan menjadi pejuang di jalan Allah dan akan dipahalai, sebagaimana para nabi dan utusan Allah. Nabi Muhammad saw. berkata kepada Ali r.a.:
"Jika Allah membimbing seseorang melalui pembimbingmu atasnya, adalah lebih baik bagimu daripada tempat matahari terbit."

Yang kedua, berlidah tapi tak berhati. Mereka berbicara bijak, tapi tak berbuat bijak. Mereka menyeru orang agar taat kepada Allah, tapi mereka sendiri jauh dari-Nya. Mereka jijik terhadap noda orang lain, tapi mereka sendiri tenggelam dalam noda. Mereka menunjukkan kepada orang lain kesalehan mereka, tapi mereka sendiri berbuat dosa besar terhadap Allah. Bila sendirian, mereka bagai serigala berpakaian. Inilah manusia yang tentangnya Nabi memperingatkan. Ia bersabda:
"Hal yang paling mesti ditakuti, yang aku takuti, oleh pengikut-pengikutku, iaitu orang berilmu yang jahat." Kita berlindung kepada Allah dari orang semacam itu. Maka dari itu, menjauhlah selalu dari orang seperti itu, agar kau tak terseret oleh manisnya lidahnya, yang kemudian api dosanya akan membakarmu, dan kebusukan ruhani serta hatinya akan membinasakanmu.
Yang ketiga, berhati tapi tak berlidah, dan beriman. Allah telah memberinya dari makhluk-Nya, menganugerahinya pengetahuan tentang noda-noda dirinya sendiri, mencerahkan hatinya dan membuatnya sadar akan mudharatnya berbaur dengan manusia, akan kekejian berbicara dan yang telah yakin bahwa keselamatan ada dalam ke-diam-an serta keberadaan dalam sebuah sudut, sebagaimana sabda Nabi saw.:
"Barangsiapa senantiasa diam, maka ia memperolehi keselamatan."
"Sesungguhnya pengabdian kepada Allah terdiri atas sepuluh bahagian, yang sembilan bahagian ialah ke-diam-an."
 
Maka, orang ini adalah wali Allah dalam hal rahasia-Nya, terlindungi, memiliki keselamatan dan banyak pengetahuan, terahmati dan segala yang baik ada padanya. Nah, ingatlah, bahwa kau mesti senantiasa bersama dengan orang semacam ini, layanilah ia, cintailah ia dengan memenuhi kebutuhan yang dirasakannya, dan berilah ia hal-hal yang akan menyenangkannya. Bila kau melakukan yang demikian ini, maka Allah akan mencintaimu, memilihmu dan memasukkanmu ke dalam kelompok sahabat dan hamba saleh-Nya disertai rahmat-Nya.
 
Yang keempat ialah manusia yang diundang ke dunia ghaib, yang dipakaikan kemuliaan. "Barangsiapa mengetahui dan bertindak berdasarkan pengetahuannya dan memberikannya kepada orang lain, maka ia diundang ke dunia ghaib dan menjadi mulia."
Orang semacam itu memiliki pengetahuan tentang Allah dan tanda-Nya. Hatinya menjadi penyimpan pengetahuan yang langka tentang-Nya, dan Ia menganugerahkan kepadanya rahasia-rahasia yang disembunyikan-Nya dari yang lain. Ia memilihnya, mendekatkannya kepada-Nya Sendiri, membimbingnya, memperluas hatinya agar bisa menerima rahasia-rahasia dan pengetahuan-pengetahuan ini, dan menjadikannya seorang pekerja dijalan-Nya, penyeru hamba-hamba-Nya kepada jalan kebajikan, pengingat akan siksaan perbuatan-perbuatan keji, dan hujjatullah di tengah-tengah mereka, pemandu dan yang terbimbing, perantara, dan yang perantaraannya diterima, seorang shiddiq dan saksi kebenaran, wakil para nabi dan utusan Allah, yang bagi mereka limpahan rahmat Allah.
Maka, orang ini menjadi puncak umat manusia. Tiada maqam di atas ini, kecuali maqam para nabi. Adalah kewajibanmu untuk berhati-hati, agar kau tak memusuhi orang semacam itu, tak menjauhinya dan tak melecehkan ucapan-ucapannya. Sesungguhnya keselamatan terletak pada ucapan dan kebersamaan dengan orang itu. Sedang kebinasaan dan kesesatan terletak pada selainnya; kecuali orang yang dikurniai oleh Allah daya dan pertolongan yang membawa kepada kebenaran dan kasih sayang. Nah, telah kupaparkan bagimu bahwa manusia dibagi menjadi empat bagian. Maka, perhatikanlah dirimu sendiri jika kau punya jiwa yang mana. Selamatkanlah dirimu dengan sinarnya, jika kau ingin sekali menyelamatkannya dan mencintainya.
Semoga Allah membimbing kita kepada yang dicintainya di dunia ini dan di akhirat!

Makrifat Jawa

Makrifat Jawa

Oleh: Si Pincang
Category COPAS KITAB, JALANPINCANG
25 Jumadil Akhir 1431H
7 June 2010
20:28

Pengenalan Amalan Dzat Menurut Tasawuf Jawa
Ini adalah isi wirid yang menjadi bekal bagi murad/guru serta maksudnya, sebagai pembuka Hidayat yang menjadi petunjuk untuk memahami ilmu makrifat. Berasal dari dalil, hadist, ijma dan qiyas.
Dalil maksudnya penjelasan tentang firman Allah. hadist berisi tentang keteladanan Rasulullah. Ijma adalah kumpulan wejangan para wali. Qiyas adalah penyebaran ajaran para pandhita/ulama. 
Kesemuanya ini menjadi pembuka dalam proses penjelasan rahasia ghaib tentang kesejadian hidup, agar hidupnya tentram, lestaru dari awal sampai akhir. Setidak-tidaknya, sebagai hamba apabila sudah sampai ajal yang telah di tentukan mudah-mudahan bahagia dalam kesempurnaan hakikat, mulia keadaanya di alam baka jangan sampai jatuh kedalam alam kesesatan. Adapun yang menjadi intisari ilmu makrifatini bersumber dari hadist sabda kanjeng Nabi Muhammad, yang beliau wejangkan kepada sayyidina Ali. Yakni tentang adanya Dzat sebagaimana tersebut dalam dalil utama, dari firman Tuhan yang maha suci, dibidikkan melalui telinga kiri. Bunyinya sbb: Sesungguhnya tidak ada apa-apa, karena ketika masih awung-awung/kosong belum ada sesuatupun. Yang ada saat itu hanyalah Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku, dzat sejati yang maha suci, yang meliputi sifat-ku, menyertai namaku, dan menandai perbuatanku. 
Pengertiannya sebagai berikut: Sesungguhnya yang mengatakan bahwa Dzat adalah maha suci itu tiada lain adalah hidup kita sendiri, karena ketitipan rahasia Dzat yang agung. Yang meliputi sifat ini tiada lain adalah rupa kita sendiri, karena ketambahan warna Dzat yang elok. Yang menyertai nama itu tiada lain adalah nama kita sendiri, karena telah diakui sebagai sebutan bagi Dzat yang mahakuasa.
Buktinya bisa dilihat bahwa tingkah laku kita sendiri benar-benar mencerminkan perbuatan Dzat yang sempurna. Bisa dikatakan, Dzat itu mengandung sifat, sifat menyertai nama, nama memberikan tanda bagi perbuatan, dan perbuatan menjadi wahana bagi Dzat. Hubungan antara Dzat dan sifat ini bisa diumpamakan seperti madu dan manisnya. Jelas keduanya tidak bisa dipisahkan. Sifat menyertai nama ini dapat diumpamakan seseorang yang bercermin dengan bayangan dalam cermin tersebut. Tentu, apa saja yang dilakukan seseorang tadi akan diikuti oleh bayanganya.
Jadi sebenarnya, yang di sebut Dzat itu adalah tajjali/ penampakan muhammad. Sedangkan yang bernama muhammad itu adalah wahana cahaya yang meliputi badan. Ia berada dalam hidup kita. Hidup itu sendiri mandiri tanpa ada yang menghidupkan , oleh karena itu ia berkuasa, mendengar, mencium, berbicara dan merasakan rasa. Semua itu berasal dari kodrat Dzat kita sendiri.
Maksudnya, Dzat Tuhan yang maha suci melihat dengan mata kita, mendengar dengan telinga kita, mencium dengan hidung kita, bersabda dengan mulut kita, dan merasakan semua rasa dengan alat perasa kita. Tidak perlu khawatir dalam pikiran karena wahana wahya dyatmiko ada dalam diri kita. Maksudnya, lahir batinya Allah sudah ada dalam hidup kita pribadi. Jika diperibahasakan, lebih tua Dzat manusia dari pada sifat Allah, karena kejadian Dzat itu lebih terdahulu pada zaman azali serta kekal, paling dahulu di kala masih hampa keadaan kita. Sedangkan kejadian sifat itu adalah baru ketika berada di alam dunia.
Akan tetapi keduanya saling tarik-menarik menguatkan. Semua Dzat pasti mengandung sifat dan semua yang bersifat pasti memiliki Dzat. Tentang urutan kejadian Dzat dan sifat ini disebutkan pada dalil kedua, dari firman Tuhan yang maha suci sbb:
Sesungguhnya Aku adalah Dzat yang maha pencipta dan maha kuasa, yang berkuasa menciptakan segala sesuatu,terjadi dalam seketika, sempurna lantaran kodrat-ku. Sebagai pertanda perbuatanku, sebagai kenyataan kehendak-ku. Mula-mula aku menciptakan hayyu bernama syajaratul yakin. Tumbuh dalam alam adam makdum yang azali abadi. Setelah itu cahaya bernama nur muhammad, cermin bernama mir’atul haya’i, nyawa bernama roh idhafi, lampu bernama kandil, permata bernama dharrah, dan dinding jalal bernama hijab yang menjadi penutup hadirat-ku.
Maksudnya sebagai berikut:
1. Syajaratul Yakin
Tumbuh dalam alam hampa yang sunyi senyap azali abadi. Ia adalah pohon kehidupan yang berada dalam ruang hampa dan sunyi senyap selamanya, belum ada sesuatupun. Ia merupakan Hakikat Dzat mutlak yang qadim. Artinya, ia adalah hakikat yang pasti dan paling dahulu, yaitu Dzat atma yang menjadi wahana bagi alam ahadiyat.
2. Nur Muhammad
Artinya cahaya yang terpuji. Dikisahkan dalam hadist, ia seperti burung merak, berada dalam permata putih dan berada pada arah Syaratul Yakin. Itulah hakikat cahaya yang diakui tajalli Dzat, berada dalam nukat ghaib, merupakan sifat atma dan menjadi wahana bagi alam wahdah.
3. Mir’atul Haya’i
Artinya adalah kaca wira’i. Dikisahkan dalam hadist, ia berada di depan Nur Muhammad. Ia adalah hakikat pramana yang diakui rahsa Dzatnya, sebagai nama bagi atma serta menjadi wahana bagi alam wahidiyat.
4. Roh Idhafi
Artinya adalah nyawa yang jernih. Dikisahkan dalam hadist, ia berasal dari Nur Muhammad. Ia adalah Hakikat suksma yang diakui sebagai keadaan Dzat, serta merupakan perbuatan atma. Ia menjadi wahana bagi alam arwah. 5. Kandil
Artinya adalah lampu tanpa api. Dikisahkan dalam hadist, ia berupa permata, cahaya berkilauan, serta bergantung pada alat pengait. Itulah keadaan Nur Muhammad dan tempatnya berkumpul semua ruh. Ia adalah Hakikat angan-angan yang diakui sebagai bayangan Dzat, bingkai bagi atma dan menjadi wahana alam misal.
6. Dharrah
Artinya adalah permata. Dikisahkan dalam hadist, ia memiliki sinar yang beraneka warna, satu tempat dengan para malaikat. Ia menjadi hakikat budi, yang diakui sebagai perhiasan Dzat, pintu nama, dan menjadi wahana alam ajsam.
7. Hijab
Artinya adalah dinding yang agung dan disebut sebagai dinding jalal. Dikisahkan dalam hadist, ia adalah yang timbul dari permata beraneka warna. Pada saat bergerak akan menimbulkan buih, asap, dan air. Ia adalah hakikat jasad, merupakan tempat bagi atma, dan menjadi wahana bagi alam Insan Kamil .
Menurut keterangan dai ijma’ dan qiyas, dinding agung yang berupa buih, asap, dan air tadi dibagi menjadi 3 bagian.
1.Buih,
mengeluarkan tiga hijab yaitua. 
a.Hijab kisma, menjadi perwujudan jasad luar seperti kulit, daging, dan sebagainya.
b.Hijab Rukmi, menjadi perwujudan jasad dalam, seperti otak, manik, hati, jantung , dan sebagainya.
c.Hijab Retna, menjadi perwujudan jasad yang lembut seperti mani, darah, sumsum, dan sebagainya.
2. Asap
a.Hijab kegelapan, menjadi perwujudan nafas dan yang lainya
b.Hijab guntur, menjadi perwujudan panca indra
c. Hijab api, menjadi perwujudan nafsu.
3. Air
a. Hijab embun air hidup, menjadi perwujudan suksma
b. Hijab nur rasa, menjadi perwujudan rahsa
c. Hijab nur cahaya yang sangat terang, menjadi perwujudan atma.

Semua itu merupakan dinding bagi Dzat yang berada pada insan kamil atau manusia sempurna. Tidak perlu kuatir karena keadaan Arsy, kursi, lauh mahfudz, kalam, timbangan, jembatan shiratal mustaqim, surga, neraka, bumi, langit, dan semua isinya ini sudah termasuk dalam tabir yang diimbasi oleh Dzat kita yang maha agung. Ia terpancar menjadi keelokan sifat kita yang tunggal, menyertai nama kita yang berkuasa, menandai kekuasaan perbuatan kita yang sempurna.
Sesungguhnya Aku menciptakan Adam berasal dari empat unsur yakni tanah, api, amgin dan air. Semuanya menjadi perwujudan sifat-ku, untuk Aku masuki lima macam mudah yaitu nur, rahsa, roh, nafsu, dan budi untuk menjadi penutup wajah-ku yang maha suci. Maksudnya, mudah itu adalah Dzat hamba, wajah itu adalah Dzat gusti yang bersifat kekal. Dalam suatu hadist. Disebutkan bahwa masuknya mudah kedalam jasad melalui lima macam proses. Bermula dari ubun-ubun, berhenti di otak, turun ke mata, turun ke telinga, turun ke hidung, turun ke ulut, turun kedada, tersebar ke seluruh tubuh, dan akhirnya sempurna menjadi insan kamil.
Inilah kehendak tambahan dari Dzat yang maha suci. Ia menciptakan singgasana Dzat , diatur dalam baitullah menjadi tiga susunan. Semua itu merupakan kenyataan. Segala sesuatu merupakan ciptaan Dzat yang maha agung, maha mulia, maha kekal tanpa ada perubahan. Disebutkan dalam tiga buah firman Tuhan yang maha suci.
1. Ayat pertama tentang susunan singgasana dalam Baitul Makmur.
Sesungguhnya Aku mengatur singgasana dalam baitul makmur, yaitu rumah tempat kesukaanku. Tempat itu berada dalam kepala adam. Dalam kepala itu ada otak, dalam otak itu ada manik, dalam manik itu ada budi, dalam budi ada nafsu, dalam nafsu ada suksma, dalam suksma ada rahsa, dalam rasa ada aku. Tidak ada Tuhan selain aku,dzat yang meliputi semua keadaan.
2. Ayat kedua tentang susunan dalam baitul Muharram.
Sesungguhnya Aku mengatur singgasana berada dalam baitul muharram, yaitu rumah tempat pingitanku. Tempat itu berada di dalam dada adam, didalam dada adam ada hati hati, didalam hati itu ada jantung, didalam jantung itu ada budi, didalam budi itu ada jinem/angan-angan, didalam jinem ada suksma, didalam suksma ada rahsa, didalam rahsa ada Aku, tidak ada Tuhan selain Aku, Dzat yang meliputi semua keadaan.
3.Ayat ketiga tentang susunan singgasana Baitul Muqaddas.
Sesungguhnya Aku mengatur singgasana di dalam baitul muqaddas. Itu adalah rumah, tempat yang Aku sucikan. Berada dalam kontholnya adam. Dalam konthol itu ada pringsilan/buah pelir, diantara pringsilan itu ada nutfah yaitu mani, didalam mani ada itu ada madi, di dalam madi ada wadi, didalam wadi itu ada manikem, dalam manikem ada itu ada rahsa, dalam rahsa itu ada aku, tidak ada Tuhan selainn Aku, Dzat yang meliputi semua keadaan, bertakhta dalam nukat gaib, turun menjadi jauhar awal. Disitulah alam ahadiyat berada /alam wahdah dan alam wahidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, dan alam insan kamil, menjadi manusia sempurna yaitu sifatku yang sejati.
Setelah memahami firman Tuhan diatas, maka bijaksanalah dalam hati sebagai perwujudan syukur karena telah menerima anugerah. Anugerah itu adalah pemahaman tentang Dzat Tuhan, yakni menerima sifat sebagai hamba yang telah manunggal dengan Tuhan tanpa batas dalam badan kita.
Penjelasan dari ayat di atas adalah sebagai berikut:
Pertama, tentang unsur-unsur yang terdapat dalam Baitul Makmur, artinya rumah yang makmur.
Kepala adalah bentuk lahir dari Baitul Makmur.
*Otak adalah keadaan kontha, yang dapat menarik terangnya cahaya dan merupakan pembuka bagi pemahaman tentang Dzat.
*Manik adalah keadaan pramana, memperjelas warna, dan menjadi pangkal penglihatan.
*Budi adalah keadaan pranawa, memperjelas kehendak, dan menjadi pangkal dalam berbicara.
*Nafsu adalah keadaan hawa, memperjelas suara, dan menjadi pangkal bagi pendengaran.
*Suksma adalah keadaan nyawa, memperjelas cipta, dan menjadi pangkal penciuman.
*Rahsa adalah keadaan atma, memperjelas kuasa, dan menjadi pangkal bagi perasaan.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka para guru yang mengajarkan tentang susunan singgasana dalam baitul makmur ini berpesan agar tidak makan otak dan manik. Bahkan jangan sampai ada keinginan untuk makan kesuanya. Manfaatnya, menurut pengalaman yang sudah-sudah, ilmunya akan diterima.
Kedua, tentang unsur-unsur yang terdapat dalam baitul muharram, artinya rumah tempat bagi hal-hal yang dilarang.
*Dada adalah bentuk lahir keadaan baitul muharram.
*Hati adalah keadaan panca indra,memperjelas nafsu, dan menjadi pangkal munculnya nafas.
*Jantung adalah keadaan panca maya, memperjelas rasa birahi, dan menjadi pangkal timbulnya denyutan.
*Budi adalah keadaan pranawa, memperjelas kehendak, dan menjadi pangkal munculnya pembicaraan.
*Jinem adalah keadaan angan-angan, memperjelas suara, dan menjadi pangkal munculnya pendengaran.
*Suksma adalah keadaan nyawa, memperjelas cipta, dan menjadi pangkal bagi timbulnya penciuman.
*Rahsa adalah keadaan atma, memperjelas kekuasaan, dan menjadi pangkal munculnya perasaan.
Guru yang mengajarkan ilmu tentang susunan singgasana dalam baitul muharram ini juga berpesan agar tidak makan hati dan jantung. Bahkan jangan sampai ada keinginan untuk memakan keduanya.
Manfaatnya, menurut pengalaman yang sudah-sudah, sering di terima ilmunya.
Ketiga, tentang unsur-unsur yang terdapat dalam baitul muqaddas, artinya rumah yang disucikan.
*Konthol adalah bentuk lahir dari baitul muqaddas.
*Buah pelir adalah keadaan purba, diresapi rasa birahi, serta menimbulkan asmaranala yakni tertariknya hati.
*Mani adalah keadaan kontha, diresapi hawa nafsu, serta menimbulkan asmaratura yakni tertariknya penglihatan
*Madi adalah keadaan warna, diresapi oleh kehendak, serta menimbulkan asmaraturida yakni tertariknya pendengaran.
*Wadi adalah keadaan rupa, diresapi daya pemikiran,serta menimbulkan asmaradana yakni tertariknya kesamaan pembicaraan.
*Manikem adalah keadaan suksma, diresapi oleh perasaan, serta menimbulkan asmaratantra, yakni rasa tertarik karena bersinggungan.
*Rahsa adalah keadaan atma, diresapi rasa kuasa, serta menimbulkan asmaragama, yakni kesenangan yang timbul dalam bersenggama.
Guru yang mengajarkan tentang ilmu susunan singgasana dalam baitul muqaddas ini berpesan agar tidak makan daging buah pelir dan semacamnya. Setidaknya jangan sampai mengobral kata mani. Manfaatnya menurut pengalaman yang sudah-sudah, akan diterima ilmunya.
Setelah paham, sebaiknya ia mengamalkan amalan yang dapat memperteguh kekuatan iman, yakni syahadat jati yang dibaca di dalam hati. Bunyi syahadat tersebut adalah:
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Aku. Dan Aku bersaksi bahwa sesungguhnya muhammad itu adalah utusanku.
Setelah memahami makna syahadat jati ini, kemudian mengangkat janji terhadap sanak saudara kita, yaitu semua makhluk yang tersebar di penjuru dunia seperti langit, bumi, matahari, bintang, bulan, api, angin, air dan sebagainya. agar semuanya menjadi saksi bahwa kita telah mengaku menjadi Dzat Tuhan yang maha suci.
Menjadi sifat Allah yang sesungguhnya, menyebut dalam batin sbb:
Aku bersaksi kepada Dzatku sendiri bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Aku. Dan Aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan-ku.sesungguhnya yang bernama Allah itu adalah badanku rasul itu adalahrahsaku, muhammad itu adalah cahayaku. Akulah yang senantiasa hidup dan tidak akan pernah mati. Akulah yang selalu ingat dan tidak akan pernah lupa. Akulah yang kekal abadi dan tidak pernah mengalami perubahan dalam keadaan apapun. Akulah yang bijaksana. tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-ku. Akulah yang maha kuasa, berkuasa lagi bijaksana, tidak ada kekurangan dalam pengertian, sempurna terang benderang, tidak dapat diraba, tidak kelihatan, hanya aku yang meliputi alam semesta karena kodrat-ku.

MENGHIDUPKAN HIDUP

MENGHIDUPKAN HIDUP

Oleh: Si Pincang
Category MA-UL HAYAT
20 Dzulhijjah 1433H
6 November 2012
07:25
Mungkin para pembaca merasa penjelasannya koq di ulang-ulang. Kami berharap dengan cara demikian kita bisa benar-benar faham dengan keterangan yang akan kami sampaikan.
Dalam surat  Al Anfal, surat ke 8 ayat 24 tersebut di tulisan sebelumnya  ada kalimat yang berbunyi :
     “YAA AYYUHALLADZIINA AAMANUU” (artinya : Wahai orang-orang yang beriman)
*  Ayat ini adalah ditujukan kepada orang-orang yang beriman (AAMANUU).
Kemudian lanjutan ayat tersebut diatas ada kalimat yang berbunyi :
     “ISTAJIIBUU LILLAAHI WALIRROSUULI” ( artinya : Hendaklah kamu semua menyambut ajakan Alloh dan Rosululloh)
* Ayat ini adalah berisi perintah, agar supaya orang-orang yang beriman (AAMANUU) itu menyambut ajakan Alloh dan Rosululloh.
Kemudian lanjutan ayat tersebut diatas ada kalimat yang berbunyi :
     “IDZAA DA’AAKUM LIMAA YUHYIIKUM” (artinya : Ketika kamu diseru untuk sesuatu yang menghidupkan kamu).
* Ayat ini adalah berisi tujuan perintah menyambut ajakan Alloh dan Rosululloh yaitu diseru untuk sesuatu yang menghidupkan kamu.

Melihat dari kalimat demi kalimat dalam surat Al Anfal/s.8/ayat 24 tersebut di atas, lalu timbul beberapa pengertian.
1. SOAL :
Mengapa orang-orang AAMANUU (beriman) itu masih diperintah menyambut ajakan Alloh dan Rosululloh?…
     JAWAB :
Adanya orang-orang AAMANUU diperintah menyambut ajakan Alloh dan Rosululloh, karena AAMANUU (orang-orang yang beriman) itu adalah  hidup, bukan mati.
2. SOAL :
Tapi mengapa orang-orang AAMANUU yang hidup ini  masih diperintah untuk menghidupkan dirinya, buktinya adalah ayat yang berbunyi LIMAA YUHYIIKUM (artinya untuk sesuatu yang menghidupkan kamu) ?…
     JAWAB:
Kalau begitu  berarti orang-orang yang beriman (AAMANUU) itu masih mati (belum hidup).
3. SOAL :
Dan mengapa orang-orang AAMANUU itu dikatakan masih mati, padahal jelas beda dengan orang kafir ?..
     JAWAB :
Karena orang AAMANUU itu belum minum MA-UL HAYAT, apalagi orang kafir.
4. SOAL :
Kalau memang orang-orang AAMANUU itu masih mati (belum hidup), lalu yang dimaksud ini hidup yang bagaimana?…..
  • Kalau yang dikatakan hidup itu perkembangan, itu adalah hidupnya tumbuh-tumbuhan, sedangkan kita bukan tumbuh-tumbuhan.
  • Kalau yang dikatakan hidup itu keluar masuknya nafas (pergantian zat), itu adalah sama dengan hidupnya hayawan dan ini tidak ada bedanya, hidupnya kucing juga keluar masuk nafas .
    Dan kalau hidupnya orang mu’min itu dikatakan keluar masuknya nafas, itu berarti  sama dengan hayawan..?
  • Kalau  yang dikatakan hidup itu hubungannya roh dengan jasmani, apa bedanya dengan hidupnya orang kafir..? Padahal dalam ayat ini orang AAMANUU itu masih mati kalau belum minum Ma’ul hayat, apalagi orang kafir.
5. SOAL     : Apakah tidak ingin hidup langgeng ..?
     JAWAB : Ya ingin !
6.  SOAL     : Kalau memang ingin, kenapa tidak mencari..?
     JAWAB : Ya mencari !
7.  SOAL     : Kalau memang  mencari,  mengapa tidak tahu tempatnya?….
     JAWAB : Sudah tahu !
8.  SOAL     : Kalau memang sudah tahu tempatnya, mengapa tidak bisa mengambil?…
     JAWAB : Ini semuanya disebabkan karena belum minum MA- UL HAYAT.
Jadi kesimpulannya adalah, kalau kita sebagai orang-orang yang beriman tidak mencari dan minum MA-UL HAYAT, maka kita masih mati (belum hidup).
Kalau dalam tafsir,  ayat 24/s.8/surat Al Anfal ini bermakna dhohir, yaitu dihubungkan dengan peperangan zaman kanjeng Nabi.
Kalau memang ayat ini dihubungkan dengan peperangan zaman kanjeng Nabi,  berarti ayat ini sekarang sudah tidak berlaku dan hanya berlaku pada zaman kanjeng Nabi saja, sebab sekarang sudah tidak ada peperangan seperti zaman kanjeng Nabi dan adanya hanya di Makkah saja. Kalau begitu, tidak di sini. Padahal Alqur’an itu untuk seluruh manusia.
Akan kami perjelas keterang di tulisan berikutnya… ini masih seputar HIDUP, belum masuk tema utama. Tapi sabar saja, nanti buru-buru malah gak paham.
Semoga manfaat !

TINGKATAN-TINGKATAN HIDUP

TINGKATAN-TINGKATAN HIDUP

Oleh: Si Pincang
Category MA-UL HAYAT
16 Dzulhijjah 1433H
2 November 2012
18:57
Tulisan ini adalah penjelasan lanjutan dari tulisan yang kemarin. Kemarin disampaikan dawuhnya Alloh Ta’ala dalam Al Qur-an surat Al-Anfal ayat 24.
YAA AYYUHALLADZIINA AAMANUSTAJIIBUU LILLAAHI WALIRROSUULI IDZAA DA’AAKUM LIMAA YUHYIIKUM (Al-Anfal / 24).
“Yaa Ayyuhalladziina Aamanuu” : Wahai orang-orang yang beriman.
“Istajiibuu Lillaahi Walirrosuuli” : Sambutlah ajakan Alloh dan ajakan Rosululloh.
“Idzaa Da’aakum Limaa Yuhyiikum” : Ketika Alloh dan Rosululloh mengajak kamu untuk sesuatu yang dapat menghidupkan kamu.
Orang beriman mendapat perintah ini berarti orang-orang mukmin itu sudah hidup. Sebab kalau tidak hidup untuk apakah diperintah menyambut ajakan Alloh dan Rosululloh ?

Apakah mungkin orang yang mati itu diperintah menyambut suatu ajakan atau menerima ajakan?
Jadi adanya perintah menyambut ajakan,  menunjukkan bahwa orang mukmin itu sudah hidup. Akan tetapi anehnya bunyi ayat diatas orang mukmin diperintah untuk menyambut ajakan Alloh dan Rosululloh yang ajakan tersebut untuk menghidupkan orang mukmin. Lha ini hidup yang bagaimana ?
Berdasarkan ayat ini, maka hidup itu memang mempunyai tingkatan-tingkatan.
  • Ada hidup yang ditandai oleh perkembangan. Ini hidupnya alam tumbuh - tumbuhan. Kalau di alam tumbuh-tumbuhan itu berkembang, maka tandanya tumbuh-tumbuhan tersebut hidup. Dan kalau tumbuh-tumbuhan itu tidak berkembang, maka itu tandanya mati.
  • Ada hidup yang ditandai dengan keluar masuknya nafas atau peristiwa kimia yakni ditandai oleh pertukaran zat atau getaran jantung, ini hidupnya jasmani manusia dan hayawan. Jadi hidup yang seperti ini bukan hanya manusia saja, tapi kerbau, sapi hidupnya juga demikian. Hidup yang demikian itu adalah hidup sandaran terhadap hidupnya ruhani.
  • Ada lagi hidup yang tidak ditandai oleh keluar masuknya nafas atau pertukaran zat tapi hidupnya dengan sifat, yakni hidupnya ruh.  Jadi ruh memamg hidup akan tetapi hidupnya ruh itu bukan dengan pertukaran zat tapi hidupnya dengan sifat, memang ruh itu dzatnya bersifat hidup.
Jadi ruhani hidup, jasmani juga hidup, sama-sama hidup akan tetapi hidupnya lain. Hidupnya jasmani sandaran kepada hidupnya ruhani. Oleh sebab itu hidupnya jasmani terbatas kepada adanya yang disandarinya. Selama yang bersandar masih jadi satu dengan yang disandarinya maka ia hidup. Tapi kalau yang disandari itu pergi maka jasmani pasi geblak/jatuh, jasmani pasti mati.
Hidup sandaran itu dalam bahasa Arab disebut : “Hayaatun ‘Idhoofiyyah”. “Hayaatun” artinya : Hidup. “’Idhoofiyyah” artinya : sandaran. Jadi hidupnya jasmani bersandar kepada hidupnya ruhani.
Kalau hidupnya ruhani itu hidup dengan sifat yang dalam bahasa Arabnya disebut : “Hayaatun Shifaatiyyah” artinya : Hidupnya dengan sifat. Makanya hidupnya ruhani tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
  • Di alam arwah hidup.
  • Di dunia dengan jasmani juga hidup.
  • Di alam barzakh tanpa jasmani juga hidup.
  • Di neraka hidup.
  • Di syurga hidup, karena memang sifatnya itu sifat hidup.
Jadi hidupnya ruhani tidak terbatas oleh tempat dan waktu, dimana saja kapan saja ruhani tetap hidup.
Di tulisan selanjutnya, akan kami perjelas tentang HIDUP . Memang akan terkesan di ulang-ulang. Kami berusaha agar saudara-saudara semua bisa memahami. Maklum-lah tidak semua pembaca berkemampuan sama.
Semoga Manfaat…